Kelas Moto4 Asia Cup 2016 yang mengubah wajah balap motor Asia

Menjelang paruh kedua musim MotoGP 2026, Ai Ogura terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kandidat kuat juara dunia.

Kemenangan perdananya di Grand Prix Belanda, disusul tiga podium lainnya, membuat pembalap Trackhouse itu kini menempati peringkat kedua klasemen sementara. Ia hanya terpaut 14 poin dari pemuncak klasemen Jorge Martín, sekaligus unggul empat poin atas juara bertahan Marc Márquez.

Meski baru menjalani musim keduanya di MotoGP, kesuksesan Ogura bukanlah sesuatu yang diraih dalam waktu singkat. Sebaliknya, pencapaiannya merupakan puncak dari jalur pembinaan yang dimulai lebih dari satu dekade lalu melalui ajang pencarian bakat satu merek, Moto4 Asia Cup, yang saat itu masih bernama Asia Talent Cup.

Walau Ogura sudah melakukan debut setahun lebih awal, musim ketiga kejuaraan pada tahun 2016 menghadirkan angkatan pembalap yang kini dianggap sebagai salah satu generasi terbaik yang pernah dilahirkan ajang tersebut.

Pada musim itu, Somkiat Chantra keluar sebagai juara setelah mengalahkan Ogura dan Andi Farid Izdihar dari Indonesia dalam perebutan gelar yang baru ditentukan pada seri terakhir di Sepang. Gerry Salim dari Indonesia dan Yuki Kunii dari Jepang juga berhasil meraih kemenangan balapan sepanjang musim.

Jika ditinjau hampir satu dekade kemudian, musim tersebut bukan hanya melahirkan bintang MotoGP, tetapi juga membentuk satu generasi yang kini menjadi tulang punggung balap motor Asia di berbagai ajang, mulai dari MotoGP, Kejuaraan Dunia Superbike (WorldSBK), hingga Asia Road Racing Championship (ARRC).

Yang lebih penting, keberhasilan angkatan 2016 semakin mengukuhkan reputasi Moto4 Asia Cup sebagai jalur pembinaan yang mampu melahirkan pembalap kelas dunia, sekaligus membuka jalan bagi lulusan berikutnya seperti Hakim Danish, Azroy Anuar, Veda Pratama, dan Mario Aji.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by MotoGP™ (@motogp)

Generasi terbaru Moto4 Asia Cup akan kembali berlaga di Sirkuit Internasional Sepang pada 31 Juli-2 Agustus untuk putaran kedua musim 2026. Hayato Chishiki, Qabil Irfan, dan Bintang Pranata menjadi beberapa nama yang berharap mampu mengikuti jejak Ogura, Chantra, dan rekan-rekan seangkatannya.

Apakah mereka mampu mengulang pencapaian angkatan 2016 baru akan terjawab beberapa tahun ke depan. Untuk saat ini, generasi tersebut masih menjadi tolok ukur keberhasilan yang mampu dihasilkan Moto4 Asia Cup.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Idemitsu Moto4 Asia Cup (@moto4asia)

Sementara Ogura kini menjadi sosok paling menonjol dari angkatan tersebut di MotoGP, berikut perjalanan beberapa pembalap lain yang juga bersinar dari generasi 2016.

Somkiat Chantra

Juara musim 2016 itu menjadi lulusan pertama angkatan tersebut yang berhasil menembus MotoGP, sekaligus menjadi pembalap Thailand pertama yang tampil di kelas utama setelah lebih dulu berkarier di Moto2 dan meraih dua kemenangan balapan. Meski kiprahnya di MotoGP tidak berlangsung lama, Chantra tetap bersama Honda pada tahun 2026 dengan membela tim pabrikan Jepang itu di WorldSBK serta memperkuat Honda pada ajang Suzuka 8 Hours.

Andi Farid Izdihar

Setelah menutup musim 2016 di posisi ketiga, Andi Farid melanjutkan karier di Eropa dan Grand Prix sebelum kembali ke Asia. Kini ia menjadi salah satu pembalap superbike terbaik Indonesia dengan membela JDT Racing Team di kelas ASB1000 ARRC bersama juara bertahan, Hafizh Syahrin.

Ryusei Yamanaka

Ketika beberapa rekan seangkatannya memilih jalur berbeda, Ryusei Yamanaka justru membangun salah satu karier terpanjang di Grand Prix dengan tampil secara penuh di Moto3 sejak 2019. Dengan lebih dari 120 penampilan Grand Prix, pembalap Jepang itu kini menjadi salah satu sosok paling berpengalaman di kelas tersebut, membuktikan bahwa mampu bertahan dan terus bersaing di level dunia juga merupakan pencapaian yang sangat berharga.

Can Öncü

Can Öncü mencatatkan namanya dalam sejarah Grand Prix ketika memenangi Grand Prix Valencia 2018 pada debutnya di Moto3. Kemenangan itu menjadikannya pemenang Grand Prix termuda sepanjang sejarah saat berusia 15 tahun 115 hari. Pembalap Turki tersebut kemudian beralih ke Kejuaraan Dunia Supersport, yang kini memasuki musim ketujuhnya pada tahun 2026.

Deniz Öncü

Setelah menutup musim 2016 di posisi ke-10, Deniz Öncü kembali setahun kemudian dan berhasil menjadi juara Moto4 Asia Cup sebelum melangkah ke Moto3 dan Moto2. Pada tahun 2025, ia mencetak sejarah sebagai pembalap Turki pertama yang memenangi balapan Moto2 lewat kemenangan di Grand Prix Aragon, sekaligus semakin menegaskan kualitas luar biasa yang dimiliki angkatan Moto4 Asia Cup musim 2016.