Como FC: Benarkah Klub Italia Milik Indonesia Ini Menolak Data?

Cesc Fabregas saat memimpin timnya menghadapi Napoli di Stadio Diego Maradona  (2/11/2025).

Dalam sepak bola modern, proses perekrutan sering kali didominasi oleh data yang tersaji di Excel, gambar heat map, dan algoritma kompleks. Pendekatan “Moneyball” telah meyakinkan banyak klub bahwa kunci kesuksesan sepenuhnya terletak pada angka.

Namun, di Como FC, sebuah dinamika menarik terjadi. Mereka memadukan data keras dengan intuisi manusia, dipimpin oleh pelatih Cesc Fàbregas.

Dalam diskusinya dengan The Athletic, Mirwan Soewarso, Presiden Como FC, menyoroti konflik menarik antara departemen analitik klub dan pelatih kepala mereka.

Di era ketika data menentukan nilai seorang pemain, Fàbregas berhasil meyakinkan bahwa konteks lebih penting daripada sekadar statistik mentah.

“Kadang kami punya pemain yang menurut data tidak cukup bagus. Namun, Cesc bilang, tidak, tidak — ini karena dia bermain dengan cara berbeda,” kenang Mirwan.

Fàbregas berpendapat bahwa data buruk seorang pemain sering kali disebabkan oleh lingkungan taktis sang pemain, bukan kemampuan bawaan mereka.

Dengan janji, “Bersama kami dia akan bermain seperti ini… dan saya bisa buktikan datanya akan salah,” Fàbregas mempertaruhkan kemampuannya sendiri untuk membuka potensi yang gagal dilihat komputer.

Pernyataan ini menegaskan satu kebenaran penting: angka memang bercerita, tapi bukan seluruh cerita. Pelatih asal Spanyol itu, dengan pemahaman taktis yang mendalam, berulang kali menantang keputusan model data—dan menang.

Mirwan yang pernah menjadi pemilik Persikabo itu melanjutkan, “Dia sudah membuktikannya dengan 2 pemain, bahkan mungkin lebih. Salah satunya Lucas Da Cunha.

Awalnya dia adalah pemain sayap. Cesc memindahkannya menjadi gelandang bertahan. Kami membelinya seharga €250.000 (4,8 miliar rupiah) dan sekarang ada tawaran €15 juta (289,1 miliar rupiah). Semua berkat Cesc.”

 


Klub yang dimiliki Grup Djarum ini tidak menolak analitik—mereka mendefinisikan ulang cara menggunakannya. Data tetap menjadi fondasi, tetapi Fàbregas menambahkan lapisan interpretasi yang memproyeksikan performa masa depan, bukan sekadar mengandalkan metrik masa lalu.

Transformasi Lucas Da Cunha lebih dari sekadar kemenangan finansial; ini adalah bukti visi dan adaptabilitas.

Saat data menandai keterbatasan, Fàbregas melihat potensi di balik angka, membayangkan ulang peran dan membuka nilai tersembunyi. Pendekatan ini tidak menolak analitik—melainkan melengkapinya, mengingatkan kita bahwa sepak bola tetaplah permainan kreativitas dan penuh pendekatan insting.

Di era yang terobsesi dengan metrik, kisah Como FC menjadi pengingat yang menyegarkan: teknologi memang kuat, tetapi mata manusia, yang dipandu oleh pengalaman dan intuisi, masih bisa menulis ulang cerita.

Jorge Martin: From Heaven to Hell

Coming into the season as the reigning World Champion, the Spaniard endured a nightmare year, as injury derailed his debut campaign with Aprilia

SPOTV NOW