Mampukah Hearts Ulangi Keajaiban Sir Alex Ferguson dan Guncang Skotlandia?

Lawrence Shankland berterima kasih pada pendukung saat timnya mengalahkan Rangers 2-1 di Tynecastle Park, 21 Desember 2025 (IMAGO / Focus Images)

Pemandangan asing terpampang nyata di papan klasemen Scottish Premiership. Warna merah marun Heart of Midlothian berdiri tegak sebagai penguasa sementara.

Saat ini, Hearts memimpin takhta dengan keunggulan tiga poin atas Rangers—ditambah tabungan satu pertandingan yang belum dimainkan.

Di posisi ketiga, Celtic berselisih enam poin dari puncak. Bagi liga yang sering dianggap “membosankan” karena dominasi dua tim Glasgow, situasi di mana duo Old Firm harus mengemis poin untuk mengejar tim lain adalah anomali yang luar biasa.

Untuk memahami betapa langkanya momen ini, kita harus memutar waktu kembali ke musim 1984/85.

Itulah kali terakhir kasta tertinggi Skotlandia dimenangi oleh tim di luar Celtic atau Rangers. Kala itu, Aberdeen berhasil menyabet gelar juara dua musim berturut-turut di bawah tangan dingin manajer legendaris, Sir Alex Ferguson, sebelum ia hijrah ke Manchester United pada 1986.

Sejak kepergian “Fergie”, Skotlandia terjebak dalam monopoli absolut. Sebanyak 40 gelar liga terakhir hanya berputar di dua klub: Celtic (23 gelar) dan Rangers (17 gelar).

Stabilitas di Tengah Badai Glasgow

Ketika dua raksasa Glasgow terjebak dalam pusaran kekacauan internal, Hearts menemukan kekuatan dalam ketenangan. Musim ini, baik Celtic maupun Rangers sama-sama melakukan pergantian manajer di tengah jalan demi menyelamatkan performa mereka.

Rangers memecat Russell Martin pada Oktober dan menunjuk Danny Röhl sebagai nakhoda baru.

Situasi di Celtic jauh lebih dramatis. The Hoops melewati musim yang penuh gejolak; mulai dari Brendan Rodgers, beralih ke Martin O’Neill, sempat ditangani Wilfried Nancy, dan pekan ini secara mengejutkan kembali lagi ke pelukan O’Neill.

Di tengah turbulensi tersebut, Derek McInnes menjadi sosok pembeda bagi Hearts. Di bawah arahannya, Hearts tidak hanya sekadar beruntung, tapi tampil sangat dominan.

Mereka mencatatkan kemenangan terbanyak, gol terbanyak, dan selisih gol terbaik di liga. Ketajaman Lawrence Shankland dengan 10 gol menjadikannya top skor sementara, didukung oleh Alexandros Kyziridis sebagai raja assist liga.

Buktinya tidak main-main: Hearts sudah dua kali mengalahkan Celtic dan Rangers musim ini.

Bukan Tren Sesaat

“Saya ingin kami memenuhi ekspektasi pendukung di sini, dan pada waktunya, melampaui ekspektasi tersebut,” ujar McInnes mengenai performa timnya.

“Saat ini kami mungkin melampaui posisi yang diperkirakan banyak orang, tapi kami menikmatinya. Tidak ada seorang pun di Hearts yang merasa tidak nyaman dengan posisi kami sekarang.”

McInnes menegaskan bahwa keberadaan mereka di puncak selama lebih dari tiga bulan bukanlah sebuah kebetulan. “Ini bukan sekadar tren positif atau periode singkat. Ada sesuatu yang jauh lebih substansial di sini.”

Memasuki sepertiga akhir musim, tekanan tentu akan semakin besar. Setiap poin kini terasa seperti emas.

“Setiap pertandingan menjadi lebih krusial. Ruang untuk kesalahan semakin sempit,” tambah pria berusia 54 tahun itu. “Kami hanya perlu fokus pada diri sendiri dan tetap tenang dalam bekerja.”

Ujian Selanjutnya: Melawan Dundee

Ujian konsistensi Hearts berikutnya hadir pada hari Minggu ini saat mereka bertandang ke markas Dundee. Kemenangan menjadi harga mati jika mereka ingin benar-benar meruntuhkan tembok duopoli Old Firm yang sudah bertahan selama 40 tahun.

Bagi para pencinta sepak bola di Indonesia, Singapura, Filipina, dan Makau, Anda dapat menyaksikan perjuangan bersejarah Hearts ini secara langsung melalui aplikasi SPOTV NOW.

Apakah sejarah Sir Alex Ferguson akan terulang kembali? Ataukah duo Glasgow akan bangkit di saat-saat terakhir? Layak kita nantikan.

Jorge Martin: From Heaven to Hell

Coming into the season as the reigning World Champion, the Spaniard endured a nightmare year, as injury derailed his debut campaign with Aprilia

SPOTV NOW