‘Saya punya lima trofi Champions League’ – Ronaldo bercanda setelah kalahkan Al Ahli
Oleh admin2 bulan lalu
(Al Nassr FC)
Cristiano Ronaldo mencuri perhatian dengan respons santai saat diwawancarai setelah membantu Al Nassr mengalahkan Al Ahli 2-0 dalam lanjutan Liga Pro Saudi.
Kedua tim bertemu pada hari Rabu, hanya beberapa hari setelah Al Ahli menjuarai AFC Champions League Elite untuk kedua kalinya secara beruntun usai mengalahkan Machida Zelvia di final 2026.
Pemain berusia 41 tahun itu mencetak satu gol bersama Kingsley Coman untuk memastikan kemenangan Al Nassr, sekaligus memperlebar jarak menjadi delapan poin atas Al Hilal.
Dalam wawancara pasca laga, seorang pendukung Al Ahli yang tidak terlihat di kamera menyebut keberhasilan terbaru timnya di level Asia, yang kemudian memicu respons spontan dari bintang Portugal tersebut.
“Saya punya lima trofi UEFA Champions League,” ujarnya, merujuk pada empat gelar bersama Real Madrid dan satu bersama Manchester United.
Ronaldo berpeluang menambah koleksi gelar internasionalnya ketika Al Nassr akan menghadapi Gamba Osaka di ajang AFC Champions League Two pada tanggal 17 Mei.
كريستيانو رونالدو ردًا على أحد جماهير الأهلي بعد المباراة ⚠️
Venus dan Serena Williams akan kembali berbagi lapangan di Wimbledon setelah menerima wild card untuk tampil di nomor ganda putri.
Ini akan menjadi penampilan pertama pasangan kakak-beradik legendaris tersebut sebagai pasangan ganda sejak US Open 2022.
Perkembangan ini juga menandai langkah lanjutan dalam kembalinya Serena ke kompetisi profesional setelah mantan petenis No. 1 dunia itu kembali bertanding awal bulan ini, hampir empat tahun sejak penampilan profesional terakhirnya.
Petenis berusia 44 tahun tersebut sebelumnya tampil bersama Victoria Mboko di HSBC Championships, dan dijadwalkan berpasangan dengan Karolína Muchová di Berlin Open pekan ini.
Sepanjang kariernya, Serena telah memenangi 23 gelar Grand Slam tunggal, termasuk tujuh gelar Wimbledon, sementara Venus mengoleksi lima gelar tunggal di All England Club.
Sebagai pasangan ganda, keduanya juga mencatat sejarah dengan meraih 14 gelar Grand Slam, termasuk enam di antaranya di Wimbledon.
Wimbledon sering dianggap sebagai puncak kejayaan dalam dunia tenis. Sepanjang sejarah turnamen tersebut, banyak pemain hebat berhasil mengukir namanya sebagai juara di All England Club, termasuk Roger Federer, Martina Navratilova, Novak Djokovic, dan Serena Williams.
Namun, tidak semua legenda tenis beruntung di lapangan rumput paling terkenal di dunia tersebut. Meski pernah menjuarai Grand Slam, menduduki peringkat No. 1 dunia, dan mencatat berbagai prestasi luar biasa, beberapa nama besar tidak pernah berhasil menambahkan trofi Wimbledon ke dalam koleksi mereka.
Menjelang Wimbledon 2026 yang akan disiarkan langsung di SPOTV NOW, berikut 10 bintang tenis yang menikmati karier gemilang tetapi tidak pernah menjadi juara di All England Club.
Ivan Lendl
Lendl merupakan salah satu pemain tersukses di Era Terbuka dengan delapan gelar Grand Slam tunggal dan 94 gelar ATP. Namun di balik semua pencapaiannya, Wimbledon menjadi satu-satunya Grand Slam yang gagal dimenanginya. Mantan No. 1 dunia itu mencapai final pada tahun 1986 dan 1987 serta lima kali menembus semifinal, tetapi tak pernah berhasil mengubah peluang tersebut menjadi gelar.
Monica Seles
Meski memenangi sembilan gelar Grand Slam dan menjadi No. 1 dunia pada usia muda, Wimbledon tidak pernah berpihak kepada Seles. Prestasi terbaiknya datang pada tahun 1992 ketika mencapai final sebelum kalah dari Steffi Graf. Setelah insiden penikaman yang mengguncang dunia tenis pada tahun 1993 dan membuatnya absen lebih dari dua tahun, Seles tidak pernah lagi kembali ke final Wimbledon.
Justine Henin
Henin meraih kesuksesan besar di lapangan tanah liat dan keras sepanjang kariernya, tetapi Wimbledon selalu menjadi tantangan yang tidak pernah berhasil ditaklukkan. Petenis Belgia itu dua kali mencapai final, kalah dari Venus Williams pada tahun 2001 dan Amélie Mauresmo pada tahun 2006.
Mats Wilander
Wilander memenangi tujuh gelar Grand Slam tunggal dan pernah menjadi No. 1 dunia. Ia menjuarai tiga Australian Open dan tiga Roland Garros, tetapi Wimbledon menjadi pengecualian. Petenis Swedia itu bahkan tidak pernah melampaui perempat final.
Arantxa Sanchez Vicario
Vicario memenangi empat gelar Grand Slam tunggal dan pernah menduduki peringkat No. 1 dunia. Meski lebih dikenal sebagai spesialis lapangan tanah liat, ia juga menikmati beberapa hasil terbaiknya di Wimbledon dengan mencapai final berturut-turut pada tahun 1995 dan 1996, tetapi dua-duanya berakhir dengan kekalahan dari Steffi Graf.
Marcelo Rios
Rios memiliki tempat unik dalam sejarah tenis sebagai satu-satunya pemain putra yang pernah menjadi No. 1 dunia di Era Terbuka tanpa memenangi gelar Grand Slam tunggal. Wimbledon juga menjadi turnamen Grand Slam tersulit baginya, dengan putaran keempat pada tahun 1997 menjadi pencapaian terbaiknya.
Andy Roddick
Nama Roddick hampir selalu muncul dalam daftar pemain terbaik yang tidak pernah menjuarai Wimbledon. Mantan No. 1 dunia dan juara US Open 2003 itu mencapai tiga final Wimbledon pada tahun 2004, 2005, dan 2009, tetapi semuanya berakhir dengan kekalahan dari Roger Federer. Final 2009 tetap dikenang sebagai salah satu pertandingan terbaik dalam sejarah Wimbledon setelah Roddick kalah 16-14 di set kelima.
Jim Courier
Courier merupakan salah satu pemain paling dominan pada awal 1990-an. Ia mencapai enam final Grand Slam dalam rentang tiga tahun dan memenangi empat di antaranya, tetapi gagal mengulangi kesuksesan tersebut di Wimbledon. Penampilan terbaiknya adalah final 1993 yang berakhir dengan kekalahan dari Pete Sampras.
Ilie Nastase
Nastase adalah salah satu ikon tenis putra pada era 1970-an dengan dua gelar Grand Slam tunggal dan lebih dari 60 gelar sepanjang kariernya. Ia mencapai final Wimbledon pada tahun 1972 dan 1976, tetapi kalah dari Stan Smith dan Björn Borg.
Guillermo Vilas
Vilas merupakan salah satu pemain terbesar dalam sejarah tenis Argentina. Sepanjang kariernya, petenis kidal itu memenangi 62 gelar tunggal termasuk empat Grand Slam. Namun lapangan rumput selalu menjadi tantangan tersendiri baginya. Ia tidak pernah melampaui perempat final Wimbledon, menjadikannya satu-satunya Grand Slam yang tidak pernah membawanya ke semifinal atau final.
Pedro Acosta memuji kebangkitan luar biasa yang dilakukan Marc Márquez setelah melewati masa-masa tersulit dalam kariernya. Ia bahkan menyebut pembalap Ducati tersebut sebagai salah satu pembalap terbaik yang pernah tampil di MotoGP.
Pembalap Red Bull KTM Factory Racing itu menyampaikan pandangannya saat menjadi tamu dalam Gypsy Tales Podcast, yang turut membahas perjalanan Márquez kembali ke puncak setelah beberapa tahun bergelut dengan cedera.
Setelah melalui serangkaian cedera yang nyaris mengancam kariernya, Márquez bangkit untuk merebut gelar juara dunia MotoGP 2025 sebelum membuka koleksi kemenangannya pada musim 2026 lewat kemenangan di Grand Prix Hungaria.
Menurut Acosta, pencapaian Márquez tidak bisa dinilai hanya dari jumlah kemenangan atau gelar yang telah diraihnya.
"Kalau dia bukan yang terbaik sepanjang masa, dia berada di level yang sama dengan Valentino Rossi," katanya.
"Yang membuat Marc begitu istimewa bukanlah apa yang sudah dia capai, tetapi bagaimana dia berhasil merebut semuanya kembali.
"Ketika anda sudah berada di puncak lalu kehilangannya, biasanya akan muncul generasi baru yang mengambil alih seperti Fabio Quartararo, Pecco Bagnaia, dan Jorge Martín. Mereka semua memiliki bakat yang luar biasa.
"Namun Marc berhasil kembali setelah melewati periode yang sangat sulit dan merebut kembali posisi yang dulu pernah menjadi miliknya."
MotoGP kembali ke Brno akhir pekan ini untuk Grand Prix Ceko 2026, sekaligus membawa kembali ajang balap ke salah satu sirkuit paling bersejarah dalam kalender kejuaraan dunia.
Menjelang balapan yang akan disiarkan langsung di SPOTV NOW, berikut lima hal menarik yang patut menjadi perhatian.
Márquez berpeluang mencetak rekor baru di Brno
Kemenangan di Hungaria pekan lalu menempatkan Marc Márquez dalam posisi ideal untuk menambah satu rekor lagi ke dalam kariernya. Pembalap Ducati itu telah meraih empat kemenangan di Brno melalui keberhasilannya pada tahun 2013, 2017, 2019, dan 2025. Jika mampu mengulangi pencapaian tersebut akhir pekan ini, ia akan melampaui Valentino Rossi sebagai pembalap dengan kemenangan kelas premier terbanyak di sirkuit tersebut sejak era MotoGP dimulai pada tahun 2002.
Lokasi kemenangan paling berkesan bagi Crutchlow
Cal Crutchlow kembali akan menggantikan Johann Zarco yang masih belum pulih dari cedera di Brno, tempat ia meraih kemenangan MotoGP pertamanya pada tahun 2016. Kemenangan tersebut juga menjadi kemenangan kelas premier pertama bagi LCR serta mengakhiri penantian selama 35 tahun untuk melihat pembalap Inggris kembali memenangkan balapan 500cc/MotoGP.
Pole position bukan jaminan kemenangan
Statistik menunjukkan bahwa pole position tidak selalu memberikan keuntungan besar di Brno. Sejak 2002, hanya sembilan dari 20 balapan yang dimenangkan oleh pembalap yang start dari posisi terdepan, atau setara dengan tingkat keberhasilan 45 persen. Tren tersebut bahkan semakin terlihat dalam satu dekade terakhir, ketika hanya empat dari 10 Grand Prix Ceko terakhir yang dimenangkan oleh pemegang pole position.
Akankah tren pemenang berbeda terus berlanjut?
Lima balapan terakhir menghadirkan lima pemenang berbeda: Álex Márquez di Jerez, Jorge Martín di Le Mans, Fabio Di Giannantonio di Barcelona, Marco Bezzecchi di Mugello, dan Marc Márquez di Balaton Park. Jika Grand Prix Ceko kembali menghasilkan pemenang baru, MotoGP akan mencatat enam pemenang berbeda dalam enam balapan berturut-turut, menyamai rekor terbaik musim 2025.
Untuk era modern MotoGP, rekor keseluruhan masih dipegang oleh delapan pemenang berbeda dalam delapan balapan beruntun, yang tercipta pada tahun 2016 dan 2020.
Aktivitas di Brno tidak berakhir setelah balapan selesai pada hari Minggu. Tim dan pembalap akan tetap berada di sirkuit untuk menjalani sesi tes resmi pertama yang melibatkan motor 850cc serta ban Pirelli yang akan digunakan ketika regulasi baru MotoGP mulai diberlakukan pada tahun 2027.