Grand Prix Bahrain di Malaysia mungkin terdengar tidak biasa, tetapi situasi seperti itu bukanlah hal baru dalam sejarah Formula 1.
Setelah balapan di Bahrain dibatalkan akibat konflik di Asia Barat, Sirkuit Internasional Sepang dijadwalkan mengambil alih penyelenggaraan balapan tersebut pada 4 Oktober. Keputusan itu sekaligus mengembalikan Malaysia sebagai tuan rumah F1 untuk pertama kalinya sejak tahun 2017.
View this post on Instagram
Balapan tersebut juga melengkapi jadwal padat Sepang, yang lebih dulu menggelar putaran kedua terakhir Asia Road Racing Championship (ARRC) pada bulan September sebelum MotoGP Malaysia pada akhir bulan Oktober.
Meski menggunakan nama Bahrain, ini bukan kali pertama Grand Prix Formula 1 digelar di luar negara yang memberikan namanya. Sepanjang sejarah kejuaraan dunia, beberapa balapan pernah mengalami situasi serupa karena berbagai alasan.
Grand Prix Swiss di Prancis
Swiss pernah menjadi tuan rumah tetap Kejuaraan Dunia F1 di Sirkuit Bremgarten sebelum negara tersebut melarang balapan sirkuit setelah tragedi Le Mans 1955 yang menewaskan lebih dari 80 penonton serta pembalap Mercedes, Pierre Levegh.
Hampir dua dekade kemudian, balapan itu kembali digelar, tetapi bukan di Swiss. Klub Otomotif Swiss memilih Sirkuit Dijon-Prenois di Prancis, yang berada dekat perbatasan kedua negara, dengan dukungan sponsor asal Swiss. Balapan pada 1975 itu tidak dihitung sebagai bagian dari Kejuaraan Dunia F1 dan dimenangi pembalap Swiss, Clay Regazzoni.
Grand Prix Swiss kembali masuk kalender Kejuaraan Dunia pada tahun 1982 setelah Grand Prix Argentina dibatalkan. Keke Rosberg meraih kemenangan pertamanya di F1 di Dijon-Prenois sebelum akhirnya menjadi juara dunia pada musim yang sama. Hingga kini, balapan tersebut masih menjadi Grand Prix Swiss terakhir dalam sejarah.
Grand Prix San Marino di Italia
Republik kecil San Marino tidak pernah memiliki sirkuit yang memenuhi persyaratan untuk menggelar Formula 1. Karena itu, sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1981, balapan tersebut selalu berlangsung di Sirkuit Imola, Italia.
Kehadirannya membuat Italia memiliki dua seri Kejuaraan Dunia F1 dalam satu musim, selain Grand Prix Italia di Monza. Imola kemudian berkembang menjadi salah satu sirkuit paling ikonik dalam sejarah Formula 1, dengan Michael Schumacher, Ayrton Senna, dan Alain Prost sebagai beberapa pembalap tersukses di sana.
Namun, sirkuit tersebut juga dikenang sebagai lokasi tragedi pada tahun 1994 yang merenggut nyawa Roland Ratzenberger dan Senna, sekaligus memicu perubahan besar dalam standar keselamatan Formula 1.
Setelah musim 2006, Formula 1 meninggalkan Imola sebelum kembali menggelar balapan di sana pada tahun 2020 hingga 2025 dengan nama baru, Grand Prix Emilia-Romagna.
Grand Prix Luksemburg di Jerman
Meski Luksemburg pernah menggelar balapan dengan namanya sendiri di Bandara Findel antara 1949 hingga 1952, ajang tersebut tidak pernah menjadi bagian dari Kejuaraan Dunia Formula 1.
Nama Grand Prix Luksemburg baru kembali muncul di kalender dunia 45 tahun kemudian, tetapi balapannya justru digelar di Nürburgring, Jerman. Keputusan itu diambil karena Hockenheim saat itu sudah menjadi tuan rumah Grand Prix Jerman, sementara Jerez memegang hak penggunaan nama Grand Prix Eropa, sehingga Nürburgring membutuhkan nama lain agar tetap masuk kalender.
Jacques Villeneuve dan Mika Häkkinen masing-masing memenangi dua edisi Grand Prix Luksemburg pada 1997 dan 1998, sebelum keduanya kemudian meraih gelar juara dunia pada musim yang sama.
Grand Prix Luksemburg hanya bertahan selama dua musim. Setelah Jerez keluar dari kalender, nama Grand Prix Eropa kembali tersedia dan digunakan lagi di Nürburgring hingga tahun 2007, sekaligus mengakhiri penggunaan nama Grand Prix Luksemburg.



