Roddick kecam desakan agar Djokovic pensiun

(Mike Lawrence/USTA)

Mantan petenis nomor satu dunia Andy Roddick mengecam para penggemar yang mendesak Novak Djokovic untuk pensiun setelah petenis Serbia itu tersingkir sejak putaran pertama US Open 2026.

Djokovic mengalami kekalahan paling awal di Grand Slam dalam 20 tahun setelah takluk 6(5)-7, 7-5, 6-4, 2-6, 1-6 dari petenis peringkat 49 dunia, Mariano Navone, pada hari Minggu.

Dalam pertarungan selama empat jam 36 menit tersebut, petenis berusia 39 tahun itu mengalami masalah fisik dan harus mendapat perawatan, selain mengalami muntah, kram, serta gangguan pada punggung dan bahu.

Djokovic kemudian mengakui masalah serupa sudah beberapa kali mengganggunya sepanjang musim ini dan mengatakan kondisi fisiknya mulai menurun seiring pertandingan berlangsung semakin lama.

Situasi tersebut, ditambah dengan tersingkirnya Djokovic di New York, kembali memunculkan pertanyaan mengenai masa depan juara Grand Slam 24 kali itu.

Namun, Roddick menegaskan hanya Djokovic yang berhak menentukan kapan waktunya untuk mengakhiri karier.

Berbicara melalui podcast Served, juara US Open 2003 itu mengatakan kekalahan Djokovic bukan disebabkan kurangnya semangat untuk terus berjuang, melainkan tubuhnya yang sudah tidak mampu bertahan.

“Tubuhnya memang sudah tidak mampu melanjutkan pertandingan,” kata Roddick.

“Ini bukan soal tekad, bukan soal dia harus memaksakan diri untuk terus bermain, bukan pula soal mengatur energi atau memilih waktu yang tepat. Tubuhnya memang sudah tidak mampu lagi.”

Roddick mengakui pertanyaan mengenai masa depan Djokovic memang akan selalu muncul setiap kali ia mengakhiri kiprahnya di Grand Slam, terlebih setelah suasana emosional ketika kalah dari Navone.

Namun, mantan petenis Amerika Serikat itu menegaskan ada perbedaan antara bertanya-tanya apakah Djokovic baru saja memainkan Grand Slam terakhirnya dan mendesaknya untuk pensiun.

“Saya rasa ada perbedaan antara bertanya-tanya apakah itu penampilan terakhirnya dan menjadi orang bodoh di Twitter yang berkata, ‘dia seharusnya pensiun.’

“Diam. Biarkan dia yang mengambil keputusan itu. Dia layak berada di turnamen berdasarkan kemampuannya sendiri. Belakangan ini pun dia lebih sering mencapai semifinal. Kita tidak berhak menentukan keputusan itu. Setiap orang memilih jalannya masing-masing,” katanya.