Tijjani Reijnders tidak menutupi faktor finansial di balik keputusannya meninggalkan Manchester City untuk bergabung dengan Al Qadsiah, sembari menegaskan kepindahannya ke Liga Pro Saudi bukan berarti kariernya di level tertinggi sudah berakhir.
Gelandang Belanda itu hijrah ke Arab Saudi pada bulan Agustus setelah hanya semusim bersama City dan kini bermain di bawah arahan Brendan Rodgers.
Bagi Reijnders, tawaran dari Al Qadsiah terlalu bagus untuk ditolak karena bukan hanya menjamin kehidupannya setelah pensiun, tetapi juga masa depan keluarganya selama beberapa generasi.
View this post on Instagram
“Ketika saya berhenti bermain nanti, saya tidak ingin harus bekerja lagi,” katanya kepada stasiun televisi Belanda, SBS6.
“Mungkin setelah kontrak bersama Manchester City pun saya sudah tidak perlu bekerja, tetapi kepindahan ini memungkinkan saya menjamin masa depan generasi keluarga saya setelah ini.
“Dengan kontrak ini, cucu saya pun bisa memiliki kehidupan yang terjamin. Jadi, mengapa saya harus menolaknya? Orang bisa berbicara soal moral, tetapi saya rasa siapa pun akan mengatakan ya jika menerima tawaran seperti ini.”
Namun, uang bukan satu-satunya daya tarik bagi mantan pemain AC Milan tersebut.
Reijnders percaya kualitas Liga Pro Saudi sering dipandang sebelah mata dan menilai kehadiran banyak pemain ternama membuat kompetisi tersebut berada di level lebih tinggi dibandingkan Eredivisie di Belanda.
“Menurut saya, liga Saudi dengan semua nama besar yang ada di sana berada di level lebih tinggi daripada Eredivisie.
“Kalau ingin menilai kualitas sepak bola di sana, lihatlah terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan,” tambahnya.
Reijnders juga mengakui awalnya memiliki keraguan yang sama seperti banyak pemain lain bahwa meninggalkan Eropa ketika berada di puncak karier mungkin akan menyulitkan peluang untuk kembali suatu hari nanti.
Namun, pembicaraan dengan Rodgers meyakinkannya bahwa pintu untuk kembali ke Eropa masih terbuka.
“Saya rasa banyak orang memiliki anggapan bahwa ketika Anda mengambil langkah seperti ini, karier sebagai pemain di level tertinggi sudah selesai. Awalnya saya juga berpikir seperti itu,” katanya.
“Dia [Rodgers] mengatakan kepada saya bahwa saya bisa bermain di sini selama tiga atau empat tahun sebelum kembali ke Eropa. Sekarang pun sudah ada banyak contoh pemain yang melakukannya.
“Itu juga yang ingin saya lakukan.”



