10 fakta Wimbledon yang sulit dipercaya tetapi benar

(AELTC/Eddie Keough)

Wimbledon 2026 akan segera dimulai pada akhir bulan ini, kembali mengalihkan perhatian para penggemar tenis ke turnamen tertua dan paling bergengsi di dunia.

Sejak edisi pertamanya pada 1877, Wimbledon dikenal dengan berbagai tradisi unik seperti lapangan rumput, aturan berpakaian serba putih, dan hubungan eratnya dengan keluarga kerajaan Inggris. Di balik sejarah panjang dan deretan juara legendaris, turnamen ini juga menyimpan banyak rekor serta kisah luar biasa yang masih dikenang hingga sekarang.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by SPOTV SEA (@spotvsea)

Menjelang Wimbledon 2026 yang akan disiarkan langsung di SPOTV NOW, berikut 10 fakta menarik yang mungkin terdengar sulit dipercaya, tetapi benar-benar terjadi dalam sejarah turnamen tersebut.

Pertandingan maraton yang mengubah tenis

John Isner dan Nicolas Mahut mencetak sejarah pada putaran pertama Wimbledon 2010 dengan memainkan pertandingan terpanjang dalam sejarah tenis profesional. Laga tersebut berlangsung selama tiga hari dengan total durasi 11 jam lima menit sebelum Isner akhirnya menang 6-4, 3-6, 6(7)-7, 7-6(3), 70-68. Set penentuan saja berlangsung lebih dari delapan jam.

Pertandingan ini menjadi salah satu momen paling ikonik dalam tenis modern dan berperan penting dalam lahirnya aturan tiebreak di set penentuan pada turnamen Grand Slam.

Tiebreak set penentuan pertama di Wimbledon

Wimbledon mulai menerapkan tiebreak set penentuan pada kedudukan 12-12 sejak 2019, dan aturan baru itu langsung digunakan pada tahun yang sama. Pertandingan pertama yang memerlukannya adalah final tunggal putra antara Novak Djokovic dan Roger Federer. Djokovic menyelamatkan dua championship point sebelum menang 7-6(5), 1-6, 7-6(4), 4-6, 13-12(3) dalam waktu empat jam 57 menit. Hingga kini, pertandingan tersebut masih menjadi final tunggal terpanjang dalam sejarah Wimbledon.

Menang lebih banyak poin, tetapi kalah di final

Final tunggal putra 2019 juga menghasilkan statistik yang luar biasa. Meski kalah dari Djokovic, Federer sebenarnya memenangi lebih banyak poin sepanjang pertandingan, yaitu 218 poin berbanding 204 milik lawannya. Kasus seperti ini sangat jarang terjadi dalam final Grand Slam, ketika runner-up justru mengumpulkan lebih banyak poin daripada sang juara.

Hanya dua wanita yang menang di dua era berbeda

Era Terbuka dimulai pada 1968 ketika pemain profesional diizinkan bertanding bersama pemain amatir di turnamen Grand Slam. Hanya Billie Jean King dan Margaret Court yang berhasil menjuarai tunggal Wimbledon sebelum dan sesudah perubahan tersebut, menjadikan keduanya sosok unik dalam sejarah turnamen.

Hampir 50 tahun menanti juara tunggal putri Inggris

Virginia Wade masih menjadi petenis putri Inggris terakhir yang menjuarai Wimbledon. Ia mengalahkan Betty Stöve di final 1977 yang berlangsung saat perayaan Silver Jubilee Ratu Elizabeth II dan disaksikan langsung oleh sang ratu di Centre Court. Hampir lima dekade kemudian, belum ada petenis putri Inggris yang mampu menyamai pencapaian tersebut.

Satu-satunya juara Wimbledon berstatus wild card

Goran Ivanišević datang ke Wimbledon 2001 sebagai pemain peringkat ke-125 dunia dan hanya mendapat tempat melalui wild card. Petenis Kroasia itu kemudian menciptakan salah satu kisah paling luar biasa dalam sejarah tenis dengan mengalahkan Carlos Moya, Andy Roddick, Marat Safin, Tim Henman, dan Patrick Rafter sebelum meraih satu-satunya gelar Grand Slam dalam kariernya. Hingga kini, ia masih menjadi satu-satunya pemain wild card yang pernah menjuarai tunggal Wimbledon.

Hanya dua pria yang juara tanpa kehilangan satu set

Banyak petenis putri pernah menjuarai Wimbledon tanpa kehilangan satu set pun sepanjang turnamen, tetapi hal tersebut jauh lebih jarang terjadi di kategori putra. Dalam Era Terbuka, hanya Björn Borg pada 1976 dan Roger Federer pada 2017 yang berhasil mengangkat trofi tanpa kehilangan satu set pun sepanjang perjalanan mereka.

Selama 132 tahun bergantung pada cuaca

Untuk sebagian besar sejarahnya, Wimbledon sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca. Banyak pertandingan terkenal harus dihentikan akibat hujan. Baru pada 2009 Wimbledon memasang atap yang dapat ditutup di Centre Court, sehingga pertandingan dapat dilanjutkan tanpa gangguan cuaca.

Tiga kali Wimbledon terhenti

Dalam hampir 150 tahun sejarahnya, Wimbledon hanya pernah dibatalkan pada tiga periode berbeda. Pertama saat Perang Dunia I dari 1915 hingga 1918, kemudian Perang Dunia II dari 1940 hingga 1945, dan terakhir akibat pandemi COVID-19 yang menyebabkan edisi 2020 dibatalkan. Pembatalan pada 2020 menjadi gangguan pertama bagi turnamen tersebut dalam 75 tahun.

Final double bagel di dua era berbeda

Skor 6-0, 6-0 di final tunggal, atau yang dikenal sebagai double bagel, merupakan hasil yang sangat langka di level Grand Slam. Dalam sejarah turnamen major, hal itu hanya terjadi tiga kali, dan Wimbledon menjadi satu-satunya Grand Slam yang menghasilkan juara double bagel pada era amatir maupun Era Terbuka. Kejadian pertama terjadi pada 1911 ketika Dorothea Lambert Chambers mengalahkan Dora Boothby, sebelum Iga Świątek mengulanginya 114 tahun kemudian dengan kemenangan atas Amanda Anisimova.