Yamaha belum tunjuk peningkatan jelang Grand Prix Thailand
Oleh admin4 bulan lalu
(Dorna)
Yamaha menjalani sesi yang menantang pada Tes MotoGP Buriram 2026 setelah gagal mencatat perbaikan waktu putaran dibandingkan tes 2025 di sirkuit yang sama.
Sepanjang dua hari uji coba pramusim di Chang International Circuit, catatan terbaik Yamaha justru sedikit lebih lambat dari tolok ukur tahun lalu, memunculkan kembali tanda tanya atas progres pengembangan motor mereka menjelang musim baru MotoGP.
Jack Miller, yang membela Prima Pramac Yamaha, menjadi pembalap Yamaha tercepat dengan waktu 1:29,672.
Namun, catatan tersebut 0,086 detik lebih lambat dibanding waktu terbaik Yamaha pada tes Buriram 2025, dan lebih dari satu detik di belakang Aprilia setelah Marco Bezzecchi memecahkan rekor sirkuit dengan 1:28,668.
Sementara itu, waktu terbaik Fabio Quartararo tercatat 0,115 detik lebih lambat dibanding pencapaian pribadinya tahun lalu.
Álex Rins (1:30,122) dan pendatang baru Toprak Razgatlıoğlu (1:30,772) juga mengalami kesulitan, bahkan termasuk di antara pembalap penuh waktu yang gagal menembus batas 1:30.
Sebaliknya, pabrikan lain menunjukkan peningkatan performa dibanding tes Buriram 2025, dengan Aprilia mencatat peningkatan 0,392 detik, diikuti KTM (0,112 detik), Honda (0,103 detik), dan Ducati (0,019 detik).
Ketiadaan lonjakan performa yang jelas dari Yamaha menjadi perhatian serius menjelang balapan pembuka musim di Grand Prix Thailand.
Marc Márquez kembali menjadi perbincangan di kalangan penggemar MotoGP setelah mencetak sejarah dengan meraih kemenangan Grand Prix ke-100 dalam kariernya di Hungaria pekan lalu. Namun seperti biasa, bukan hanya kemenangannya yang mencuri perhatian.
Sesaat setelah melintasi garis finis di Balaton Park, pembalap Ducati itu memperagakan gestur "6-7" yang langsung menjadi bahan perbincangan para penggemar MotoGP.
Faktanya, Márquez memang identik dengan berbagai selebrasi kemenangan yang unik sepanjang kariernya. Baik terinspirasi dari tren media sosial, budaya populer, maupun momen yang memiliki makna pribadi, pembalap Spanyol tersebut selalu memiliki cara tersendiri untuk merayakan kesuksesannya.
Berikut beberapa selebrasi kemenangan paling ikonik yang pernah dilakukan Márquez sepanjang kariernya.
Grand Prix Jerman 2025
Márquez mengikuti salah satu tren internet paling populer pada tahun 2025 dengan merayakan kemenangannya di Grand Prix Jerman menggunakan gaya "aura farming". Selebrasi tersebut terinspirasi dari Rayyan Arkan Dikha asal Indonesia, yang menjadi sensasi media sosial berkat tarian uniknya di atas perahu balap.
Kemenangan di depan pendukung sendiri di Jerez dirayakan dengan tarian "floss", yang saat itu sedang menjadi fenomena global. Tarian tersebut melejit setelah ditampilkan dalam pertunjukan lagu Swish Swish milik Katy Perry di acara Saturday Night Live pada tahun 2017.
Grand Prix Americas 2018
Setelah menjuarai Grand Prix Americas, Márquez merayakan keberhasilannya dengan gaya "dab", yang kala itu sangat populer di dunia olahraga dan budaya pop. Gerakan tersebut menjadi fenomena setelah sering digunakan oleh quarterback NFL, Cam Newton, sepanjang musim 2015.
Grand Prix Republik Ceko 2017
Salah satu selebrasi paling emosional dalam karier Márquez terjadi di Brno pada tahun 2017, tidak lama setelah wafatnya legenda balap Spanyol, Ángel Nieto. Setelah memastikan kemenangan, Márquez berdiri dengan kedua tangan terbentang sebelum menunjuk ke langit sebagai penghormatan kepada juara dunia 13 kali tersebut, yang dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah olahraga balap motor Spanyol.
Grand Prix Jepang 2016
Márquez merayakan kemenangan di Motegi dengan beberapa tendangan dramatis menggunakan kaki kanannya saat melintasi garis finis. Kemenangan tersebut tidak hanya memberinya gelar Grand Prix Jepang, tetapi juga memastikan gelar juara dunia MotoGP 2016 ketika musim masih menyisakan beberapa seri.
TT Belanda 2014
Setelah menjadi juara di Assen, Márquez menarik perhatian dengan menirukan gerakan berenang di atas motor Hondanya. Selebrasi unik tersebut kemudian menjadi salah satu momen paling ikonik dari musim 2014, tahun ketika ia mendominasi MotoGP dengan 13 kemenangan dan sukses mempertahankan gelar juara dunia kelas premier untuk kedua kalinya secara beruntun.
Musim lapangan rumput kembali menjadi sorotan setelah berakhirnya Roland Garros, dengan para pemain terbaik dunia mulai mengalihkan fokus mereka ke Wimbledon.
Sejumlah turnamen penting seperti Queen's Club, Halle, Berlin, Eastbourne, dan Birmingham akan menjadi ajang persiapan terakhir sebelum Grand Slam ketiga musim ini dimulai pada tanggal 29 Juni yang akan disiarkan secara langsung di SPOTV NOW.
Meski nama-nama besar seperti Jannik Sinner, Novak Djokovic, Aryna Sabalenka, dan Coco Gauff kembali diperkirakan menjadi kandidat utama, catatan di lapangan rumput kerap menghadirkan cerita yang berbeda.
Dibandingkan lapangan tanah liat maupun keras, permukaan rumput lebih menguntungkan pemain yang gemar bermain agresif, memiliki servis berbahaya, serta mampu bergerak cepat untuk memaksimalkan reli-reli pendek.
Menjelang Wimbledon 2026, berikut daftar pemain tunggal ATP dan WTA yang paling menonjol di lapangan rumput dalam lima musim terakhir berdasarkan statistik yang dikumpulkan oleh Tennis Ratio.
Pemain tunggal lapangan rumput terbaik ATP Tour (2021–2025)
#
Petenis
Gelar
Menang
Kalah
%
1
Novak Djokovic
2
30
3
90.91%
2
Carlos Alcaraz
4
35
4
89.74%
3
Matteo Berrettini
3
29
7
80.56%
4
Marin Cilic
1
15
4
78.95%
5
Jannik Sinner
2
29
9
76.32%
6
Taylor Fritz
4
36
12
75.00%
7
Daniil Medvedev
1
33
13
71.74%
8
Alexander Zverev
0
21
9
70.00%
9
Alex De Minaur
2
30
13
69.77%
10
Hubert Hurkacz
1
22
10
68.75%
Pemain tunggal lapangan rumput terbaik WTA Tour (2021–2025)
Alex Eala mendapatkan modal terbaik menjelang Wimbledon setelah keluar sebagai juara Birmingham Open usai mengalahkan Nikola Bartunkova di final pada hari Minggu.
Petenis Filipina peringkat 33 dunia itu bangkit setelah kehilangan set pertama sebelum menutup pertandingan dengan kemenangan 5-7, 6-3, 7-5 di Edgbaston Priory Club.
Keberhasilan tersebut tidak hanya memberinya gelar pertama di lapangan rumput, tetapi juga menambah koleksi gelar WTA 125 miliknya menjadi dua.
Setelah mengakhiri kiprahnya di Roland Garros, Eala terlihat cepat beradaptasi dengan permukaan rumput dan menampilkan performa konsisten sepanjang pekan di Birmingham.
Petenis berusia 21 tahun itu hanya kehilangan satu set sebelum final dan juga menyingkirkan wakil Thailand, Mananchaya Sawangkaew, di babak perempat final.
Trofi tersebut menjadi pencapaian penting lainnya dalam musim yang terus menunjukkan perkembangan positif bagi Eala, setelah sebelumnya sempat mencapai peringkat tertinggi kariernya di posisi ke-29 dunia pada bulan Maret lalu.
Tantangan berikutnya bagi Eala adalah HSBC Championships di Queen's Club, di mana ia dijadwalkan membuka turnamen melawan petenis Tiongkok, Zhang Shuai, pada hari Selasa.
Turut mencuri perhatian di Birmingham adalah petenis Indonesia, Janice Tjen, yang menjadi juara ganda putri bersama pasangannya asal Australia, Talia Gibson.
Pasangan unggulan pertama tersebut mengalahkan Harriet Dart dan Maia Lumsden dari Britania Raya di final, sekaligus menambah kegembiraan bagi wakil Asia Tenggara menjelang Wimbledon.
Meski sudah hampir setahun meninggalkan Formula E, McLaren masih harus menghadapi tindakan lanjutan dari FIA.
Pabrikan asal Inggris itu dijatuhi denda sebesar €400.000 setelah terbukti melampaui batas pengeluaran yang ditetapkan Formula E pada musim terakhir mereka di kejuaraan tersebut.
FIA, McLaren Electric Racing Ltd mengeluarkan biaya sekitar £555.628 melebihi batas yang diizinkan, atau setara dengan kelebihan anggaran sebesar 4,54 persen.
Namun, FIA mengklasifikasikan kasus tersebut sebagai pelanggaran ringan dan menjelaskan bahwa sebagian besar kelebihan pengeluaran itu berasal dari proses penghentian operasional tim setelah keputusan diambil untuk keluar dari Formula E.
FIA juga menyatakan bahwa McLaren sendiri mengungkapkan pelanggaran tersebut sebelum proses audit selesai dilakukan. Selain itu, tidak ditemukan bukti bahwa tim bertindak dengan itikad buruk atau berusaha memperoleh keuntungan kompetitif melalui pengeluaran yang melebihi batas tersebut.
Sebagai bagian dari kesepakatan dengan FIA, McLaren diwajibkan membayar denda tersebut dalam waktu 30 hari serta menanggung biaya investigasi yang dilakukan.
McLaren bergabung ke Formula E pada tahun 2022 sebelum mengundurkan diri pada akhir musim 2024/25.
Selama tiga musim berkompetisi di kejuaraan itu, McLaren meraih satu kemenangan serta beberapa finis podium.