10 fakta US Open yang sulit dipercaya tetapi benar

(Simon Bruty/USTA)

Petenis terbaik dunia akan kembali ke New York pada akhir bulan ini untuk memperebutkan gelar US Open 2026, turnamen Grand Slam keempat sekaligus terakhir musim ini.

Terkenal dengan kemeriahan penonton, pertandingan sesi malam, dan persaingan sengit di lapangan keras, US Open memiliki identitas tersendiri dibandingkan tiga turnamen Grand Slam lainnya. Di balik aksi di Flushing Meadows, turnamen ini juga menyimpan berbagai rekor luar biasa dan kisah menarik sepanjang sejarahnya.

Menjelang US Open 2026 yang akan disiarkan secara langsung melalui SPOTV NOW, berikut 10 fakta menarik yang mungkin mengejutkan Anda.=

Grand Slam yang tidak pernah terhenti

US Open digelar setiap tahun sejak turnamen putra pertama diselenggarakan pada 1881, menjadikannya satu-satunya dari empat Grand Slam yang tidak pernah melewatkan satu edisi pun. Bahkan, turnamen tersebut tetap berlangsung selama dua Perang Dunia dan pandemi COVID-19.

Pada 1917, setelah Amerika Serikat memasuki Perang Dunia I, kompetisi tetap digelar dengan nama National Patriotic Tennis Tournament dan hasil pendapatannya disumbangkan kepada Palang Merah Amerika.

Empat kali ke final, tetap tanpa gelar

Bjorn Borg dan Evonne Goolagong Cawley mencatat berbagai kesuksesan sepanjang karier masing-masing, tetapi keduanya berbagi satu rekor yang mungkin ingin mereka lupakan di US Open: empat kali mencapai final tunggal tanpa pernah menjadi juara.

Borg menjadi runner-up pada 1976, 1978, 1980, dan 1981, masing-masing dua kali kalah dari Jimmy Connors dan John McEnroe. US Open tetap menjadi satu-satunya Grand Slam yang gagal dimenanginya meski mengoleksi 11 gelar mayor sepanjang karier.

Goolagong memenangi tujuh gelar tunggal Grand Slam, tetapi tidak pernah berhasil menaklukkan New York. Petenis Australia itu kalah dalam empat final berturut-turut dari 1973 hingga 1976, masing-masing dari Margaret Court, Billie Jean King, dan dua kali dari Chris Evert.

Satu juara, tiga jenis lapangan

Sepanjang sejarahnya, US Open pernah dimainkan di tiga permukaan berbeda: rumput dari 1881 hingga 1974, tanah liat hijau dari 1975 hingga 1977, dan lapangan keras setelah pindah ke Flushing Meadows pada 1978. Namun, hanya satu pemain yang berhasil menjadi juara di ketiga permukaan tersebut.

Jimmy Connors memenangi gelar di lapangan rumput pada 1974, tanah liat pada 1976, dan lapangan keras pada 1978. Bintang Amerika Serikat itu kemudian menambah dua gelar lagi pada 1982 dan 1983.

Triple crown pertama di Era Terbuka

Margaret Court memborong gelar tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran di US Open 1970, sekaligus mencatat triple crown pertama yang sepenuhnya dimenangi pada Era Terbuka.

Court sebenarnya pernah melakukan hal serupa di Australian Open setahun sebelumnya, tetapi final ganda campuran tidak dapat dimainkan karena keterbatasan waktu dan gelar tersebut dibagi antara kedua pasangan.

Situasi serupa tidak terjadi di New York. Court mengalahkan Rosemary Casals untuk merebut gelar tunggal, berpasangan dengan Judy Tegart-Dalton untuk menjuarai ganda putri, dan bersama Marty Riessen memenangi ganda campuran.

Kesuksesannya di nomor tunggal menjadi semakin istimewa karena melengkapi Calendar Grand Slam setelah juga menjuarai Australian Open, French Open, dan Wimbledon pada tahun yang sama, sekaligus menjadikannya wanita pertama yang melakukannya pada Era Terbuka.

Dari kualifikasi hingga menjadi juara

Emma Raducanu tiba di US Open 2021 sebagai petenis peringkat ke-150 dunia dan memulai perjuangannya dari babak kualifikasi. Saat baru berusia 18 tahun, ia memenangi tiga pertandingan kualifikasi sebelum mencatat tujuh kemenangan lagi di undian utama untuk menjadi pemain pertama dalam sejarah tenis yang menjuarai nomor tunggal Grand Slam setelah memulai dari kualifikasi.

Lebih luar biasa lagi, Raducanu tidak kehilangan satu set pun sepanjang 10 pertandingan tersebut. Ia memenangi 20 set berturut-turut sebelum mengalahkan Leylah Fernandez di final.

Grand Slam pertama yang memperkenalkan tiebreak

US Open menjadi Grand Slam pertama yang menggunakan tiebreak pada 1970. Namun, format awalnya jauh lebih menegangkan dibandingkan tiebreak saat ini. Dikenal sebagai tiebreak sembilan poin dengan sistem “sudden death”, pemain pertama yang mencapai lima poin akan memenangi set. Jika kedudukan imbang 4-4, poin kesembilan langsung menentukan pemenang tanpa perlu unggul dua poin.

US Open meninggalkan format tersebut pada 1975 dan beralih ke tiebreak 12 poin, dengan pemain harus mencapai tujuh poin serta unggul setidaknya dua poin. Variasi sistem tersebut kemudian menjadi standar dalam tenis.

Tidak ada juara putra yang mempertahankan gelar sejak 2008

Roger Federer mengalahkan Andy Murray pada final 2008 untuk meraih gelar US Open kelima secara berturut-turut. Sejak saat itu, tidak ada satu pun juara tunggal putra yang berhasil mempertahankan gelarnya pada tahun berikutnya, menjadikan Federer sebagai pemain terakhir yang memenangi gelar putra secara beruntun.

Rekor tersebut tetap bertahan meski beberapa pemain menjadi juara lebih dari sekali setelah era Federer. Rafael Nadal, Novak Djokovic, Jannik Sinner, dan Carlos Alcaraz semuanya pernah kembali ke New York sebagai juara bertahan, tetapi gagal mempertahankan gelar.

Tujuh tahun final putra pada hari Senin

Cuaca buruk memaksa final tunggal putra US Open ditunda hingga Senin selama lima tahun berturut-turut dari 2008 hingga 2012. Pada 2013 dan 2014, penyelenggara memperpanjang turnamen menjadi 15 hari dan sengaja menjadwalkan final pada Senin untuk memberikan satu hari istirahat kepada para pemain setelah semifinal.

Hasilnya, selama tujuh edisi berturut-turut dari 2008 hingga 2014, juara tunggal putra US Open selalu dinobatkan pada hari Senin. Tradisi final hari Minggu akhirnya kembali pada 2015.

Selamat dari Titanic, kemudian menjadi juara

Richard Norris Williams memenangi US Championships pada 1914 dan 1916, tetapi dua tahun sebelum meraih gelar tunggal pertamanya, karier tenisnya nyaris berakhir sebelum sempat berkembang.

Williams merupakan salah satu penyintas tragedi Titanic pada 1912. Kakinya mengalami radang dingin serius setelah kapal tersebut tenggelam di Atlantik Utara dan dokter dilaporkan menyarankan agar kakinya diamputasi. Williams menolak saran tersebut dan memilih untuk terus berjalan di atas kapal penyelamat Carpathia demi membantu memulihkan sirkulasi darah.

Hanya beberapa bulan kemudian, ia memenangi gelar ganda campuran AS 1912 sebelum menjadi salah satu pemain terbaik pada masanya. Williams kemudian juga memenangi dua gelar ganda AS, satu gelar ganda Wimbledon, serta medali emas ganda campuran Olimpiade.

Juara yang tidak menerima hadiah utama

Arthur Ashe mengalahkan Tom Okker untuk menjuarai edisi pertama US Open pada Era Terbuka pada 1968, tetapi ia tidak menerima hadiah uang sebesar US$14.000 yang disediakan untuk sang juara.

Ashe saat itu masih berstatus pemain amatir dan sedang bertugas sebagai letnan di Angkatan Darat Amerika Serikat, sehingga tidak memenuhi syarat untuk menerima hadiah uang. Hadiah utama tersebut justru diberikan kepada Okker sebagai runner-up, sementara Ashe hanya menerima uang harian sebesar US$20 dengan total US$280 sepanjang turnamen.

Menariknya, Ashe juga memenangi edisi terakhir US Amateur Championships pada tahun yang sama, menjadikannya satu-satunya pemain yang pernah meraih gelar tunggal amatir AS dan US Open dalam tahun yang sama.